Yang Tersisa di Meja Makanku
Pagi itu
Yang tersaji di meja makanku
potongan kepala ikan beserta tulang,
diselingi nasi yang hampir jadi kerak
Sambil dengarkan engkau berkata tentang
cinta yang hilang di pagi hari.
Oh ludahmu banjiri piring makan ku,
caci makimu bikin aku kenyang.
Pagi itu seekor kucing kirim aku
sepotong kepala ikan di meja makan
Pagi itu beras di dapur habis tercuri tikustikus
Pagi itu kau menunggu cintamu pulang
depan pagar rumah
Ijinkan Aku Menangis
kini kau pergi jauh
hingga tanganku tak mampu memelukmu
hingga kakiku tak mampu mengejarmu
hingga mataku tak mampu menatapmu
hingga teriak panggilku tak mampu kau dengar
ijinkan aku menangis ya
biarlah airmata ini jadi samudra
mengantarku berenang mencarimu
“tapi surga itu ada dilangit?”
Nisan yang Lain
Benar, Bung, benar! Kematian kan
datang sendiri, ia asah belati lalu
tikam ke kalbu. Pedih memadu perih.
Apabila menangkis, itu belati sudah
sampai di leher, tersembelihlah kau!
Apabila meronta, itu belati sudah pun
datang ke jantung ruang jantung!
Apa yang kita tahu, Bung? Bubuk debu,
terembus ke muka, mengotorkan mata,
mengelabukan airmata, dan kita cuma
raja atas duka, mahaduka, pada rapuh
tahta, usia tak jua menabalkan kita.